SOCIAL MEDIA

Thursday, April 5, 2018

Menyusuri Prawirotaman Jogja : Hidup Ketika Pagi, Redup Kala Malam Menanti

Tak sulit mengitari Daerah Istimewa Yogyakarta, baik dengan kendaraan maupun berjalan kaki. Yang kita harapkan adalah tersesat, namun peta Google tak pernah meleset kala mengarahkan. Lain dengan Jakarta dan sekitarnya. Bahkan peta pun berbohong pada mu.

Menyusuri Prawirotaman Jogja : Hidup Ketika Pagi, Redup Kala Malam Menanti

12 kilometer ditempuh, dari Kaliurang atas sampai Prawirotaman demi mencari kebahagiaan selanjutnya. Kaki dan badan yang masih remuk karena pendakian mengacaukan pikiran kami dan menuntut untuk diistirahatkan.


Saturday, March 31, 2018

Resep Stir Fried Udon with Gochujang

Masih dalam rangka mengurangi konsumsi daging yang berlebihan, gue pun sibuk cari resep nikmat yang mudah dan gak perlu pakai daging. Setelah sibuk berfikir, browsing dan aduk-aduk bahan di rumah yang ternyata cuma ada udon, gochujang, bawang, telur dan jamur, jadilah gue memutuskan untuk bikin Stir Fried Udon.
Resep Stir Fried Udon with Gochujang

Wednesday, March 14, 2018

"Sebagian dari Iman" yang Hilang Pada Masyarakat Indonesia

Jika toilet umum bisa berbicara, mungkin ada banyak kritik dan saran yang akan mereka lontarkan kepada manusia secara gamblang. "Hey Ibu-ibu yang baru saja menutup pintu. Kau sungguh tahu kan kalau semestinya kau harus membuang sampah tisu mu di tempat sampah? Bukan di pinggir pipiku begini. Kau pikir kau hebat? Kau Raja? Bahkan Raja saja tahu adab!"


Namun sebaiknya kita tidak usah terlalu jauh sampai harus membayangkan toilet berbicara. Kita bayangkan saja perasaan para pegawai pembersih toilet umum. Mereka harus bangun pagi-pagi untuk bekerja, membersihkan toilet yang sudah mereka bersihkan kemarin. Mereka mengelap setiap inci dudukan toilet. Memastikan tisu toilet terisi dan melipat ujungnya hingga berbentuk segitiga.



Orang berlalu lalang masuk ke dalam toilet. Tanpa senyum, tanpa terima kasih, mereka berlalu. Para pegawai masuk ke dalam kubikel toilet, membersihkan percikan air di lantai. Entah apakah itu air bersih atau bisa jadi air kencing mu. Membuang tisu yang menempel di atas tempat pembuangan pembalut. Keluar, lalu mengelap wastafel yang dipenuhi tetesan sabun tak berperi.




Begitu terus.




Terkadang ada satu dua orang yang tersenyum dan berterima kasih kepada mereka. Senang bukan main, ditambah lagi kalau orang tersebut tidak mengotori toilet.

Beberapa waktu lalu saya harus pergi ke terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta untuk menjemput seorang sanak saudara. Saya, adik ipar, sepupu dan paman saya menunggu di terminal 3 kedatangan internasional. Ada banyak sekali orang pada hari itu. Ohhh ternyata ada rombongan umroh yang akan mendarat sekitar satu jam lagi.

Segelas kecil green tea latte ternyata memprotes kantung kemih dan memaksa saya untuk pergi ke toilet. Hmm, ternyata toiletnya tidak di dalam ruang tunggu kedatangan melainkan di luar. Maka saya dan adik ipar pergi ke sana, mengantri, menunggu giliran buang air.



Ada dua pegawai toilet wanita yang sibuk meninggikan suara kepada para pengguna toilet.




"Ibu jangan cebok di lantai. Cebok di toiletnya yah bu!"



"Ibu anaknya jangan dicebok di lantai dong Bu!"



"Ibu begini caranya pakai toilet. Ibu duduk saja, nanti tinggal cebok pakai selang."




Saya bingung mendengarnya. Betulkah keadaan seruwet itu sampai-sampai toilet umum langsung berubah jadi taman kanak-kanak?




Tak lama salah satu pegawai toilet tersebut berbicara (nampaknya ada yang bertanya kepadanya mengapa Ia begitu galak).


Maju-Mundur Suatu Negara Berdasarkan Kebersihan
Salah satu artis Ibukota yang pernah memprotes kebersihan toilet terminal 3 Soekarno Hatta (Sumber: Kompasiana.com)