SOCIAL MEDIA

Saturday, July 27, 2019

The chronic illness I thought I knew

It was 3 am and I didn't feel tired at all. I could hear the rats on the rooftop, they were either doing intercourse or creating a cult. Which one it was I had no intention to dig a lil deeper.

If it's like in the movie, I surely will heard a ticking clock but who has a clock nowadays? We're going digital and thank God it's digital. Otherwise my head would explode from the sound of the tick tock tick tock.
The chronic illness I thought I knew

I was thinking about life. Not this life but waaaayyy more of the past life. Really really past. I might remembered the day I was born if I tried harder.

I saw the first day of elementary school. I woke up at 6 am, run to my mom outside the house, specifically she was at my neighbor's house shopping for today's food. I told my mom, "let's go to school". I was a dumbass, my school is in front of my house (still that's why I use IS) and it was only 6am the school started at 7am. Dumbo!

It was sixth grade. My classmates were gathering around me. Someone slapped me. Bullying day, I will never forget that day. 

Indeed I jumped into the first day of junior high school's orientation. I was so embarrassed because I was the only one who wore lots of huge furry hairbands. The seniors told us to wear hairbands on both hands but the store was running out of normal hairbands so I had to buy what's left. It was embarrassing...I wish I'd die right on spot. I tried so hard to hide it, I could hear my seniors talk about how stupid I am. It's probably not tho, it's only in my head. But thus began my lack of self confidence.

I can hear the voices. They spoke to my brain never had the intention to calm me down, haunted my soul. Dragged me into the deepest well, left me broken-hearted.

It was 3:15am and I couldn't shut my eyes. Something's wrong. The rats have stopped doing whatever they were doing 15 minutes ago. I was left alone. Should I?

Irreplaceable they said. Nope... I'm pretty sure no one loves me. The biggest lie is when they told me they will be sad when I'm gone. Don't think that's true. I'm replaceable darlings.

What it feels like to have suicidal thoughts?

I was alone. There were sweats even the room was cold. The heart was racing to the point of it almost explode. Thin air, stabbed my whole body like thousands of needle. I scrolled down my contacts. Who should I call?

No one…

I'm alone. Even when I wanted to kill myself, I still thinking about what people would thought of me. I don't need an extra pressure. To stabilized my breath was what I needed.

I cried so hard. So hard my throat hurts. The voices kept talking. "Kill yourself. Please. It's the only way. It'll be fun... it'll be gone...you will not get hurt again."

It's a sin!!! I'm afraid that God will be angry. I don't want to be put in the mighty hell. My life is a hell.

"But you are worthless. You do know that right? You are lost. Does your friends even checking up on you? Even your husband is falling asleep right now never have the idea how hard it is for you. Look at your family...they have nothing to lose, honey."

It was a huge fight. I cried again. I will lose.

"That's my girl...You ready?"

I saw my reflection on the mirror. They were there, on top of my head. Black shadows. Huge teeth. Red eyes. Scary laughs. Hands shaped of scissors as if they're going to cut the string of my life. They almost did.

What did I do?

They didn't cut my string that night. I slept on the floor. I gave myself more time to think about it. "Pull yourself together, let's see how tomorrow will be."

I didn't do it. I'm here now. But I'm so afraid that someday I will lose the battle. It's suffocating. A tiring journey that I have to embrace for the rest of my life whether I want it or not. It stays.

I thought I knew my illness so well. It keeps giving me surprises (not in a fun way). It has a plan to destroy me, that's why I'm building a barrier right now. It's not strong enough to hold the monsters. Luckily... I'm gaining more material. I will fight.

"You are loved. You have a long journey ahead. You can do anything. Give yourself a time to be good at it."

Sure lad...sure.
Saturday, June 8, 2019

Memori Berbalut Gula Merah

Suatu hari pada minggu pagi lima belas tahun yang lalu, Ibu membuka pagar rumah lalu pergi entah kemana dan kembali tak lama kemudian dengan kresek berwarna putih di tangan kanan dan belanjaan sayur di tangan kiri.

Saya sudah menerka kalau yang enak-enak ada di tangan kanan. Lirik madu di tangan kanan mu, racun di tangan kiri mu (you sing you lose) sangat tepat untuk menggambarkan situasi kala itu. Sebagai anak ingusan yang kurus kerontang pada umumnya, saya benci sekali jika Ibu belanja karena sudah pasti Beliau akan memasak sayur dan memaksa saya menghabiskannya. Siapa anak kecil yang suka sayur? Saya heran kalau ada…

Minggu pagi adalah waktu yang menyenangkan bagi orang rumah. Ibu (walau tak setiap saat) punya ritual yaitu membelikan kami jajan pasar untuk sarapan. Biasanya Beliau membeli kue lupis dengan saus gula merah kental dan taburan kelapa parut gurih kesukaan (alm) Bapak. Kadang saya meminta khusus dibelikan getuk tanpa parutan kelapa. Abang-abang saya lebih gemar bersusah payah membuka tali rafia mini yang mengikat bungkus arem-arem dari pada jajan pasar berbalut gula merah.
Sumber : Instagram globalgastronaut

Walau punya preferensi masing-masing, Ibu lebih sering membelikan kami kue lupis dengan alasan “Tinggal itu yang masih ada”. Dengan hati sedikit kecewa, kami pun manut berebut kue lupis sisa dua potong yang dibeli di tukang lontong medan.

Sepotong lupis nampaknya tidak akan mengenyangkan, herannya kami sekeluarga jarang sekali bisa menyantap lebih dari dua potong karena ternyata lupis sanggup membuat perut kami penuh.

Lupis terbuat dari beras ketan yang direndam semalaman agar sedikit melunak dan mudah matang ketika direbus. Tak heran sebenarnya kalau betul membuat kenyang. Jangan lihat dari potongan kecilnya saja dong, gengs!

Kami sekeluarga sering berpindah daerah karena pekerjaan Bapak, namun ritual menyantap jajan pasar apalagi berburu lupis kesukaan Bapak tetap berjalan di manapun kami berada. Beliau gemar menaruh lupisnya di pitsin (piring kecil) lalu memakannya setelah selesai beraktivitas pagi. Jangan harap mendapat bagian karena hanya itu camilan pagi yang disukainya.

“What keeps me motivated is not the food itself but all the bonds and memories the food represents” -Michael Chiarello-
Sumber : Netflix

Saya tersadar dari lamunan kue lupis gurih-manis dan menatap ke arah layar ponsel yang sedang menampilkan acara Street Food-Netflix episode Jajan Pasar di Yogyakarta. Sampai lupa jika sedang menonton saking rindunya saya dengan masa kecil ketika melihat Mbah Satinem menuangkan saus gula Jawa kental ke atas lopis buatannya.

Tentu saja barangkali kue lupis yang saya makan dulu tidak seenak buatan Mbah Satinem atau sebaliknya, lagi pula saya belum mencobanya jadi tidak bisa membandingkan. Namun satu yang pasti kalimat “Food is Memories” betul adanya dan acara Street Food by Netflix adalah representasinya.

Kevindra Soemantri, seorang penulis kuliner dari website Top Tables menjadi narator di episode Yogyakarta dan Mbah Satinem is the star of the show.
Sumber : Instagram Kevindra Soemantri

Mbah Satinem is fearless. Beliau seorang pebisnis, peggiat kuliner with her own uniqueness Cristina Tossi might have Milkbar in towns, The Harvest might be the most popular bakery in Indonesia, but Mbah Satinem been making and selling our beloved traditional dessert for 50 years on the street! Her face was on NYC Times Square, For God Sake!!!!!

Narasi Kevindra dalam Street Food Yogyakarta ini sedari awal sudah menggandeng saya untuk kembali ke paragraf pertama.

Lupis. Ketan berbentuk segitiga. Camilan sederhana yang mengenyangkan. Sarapan favorit di masa lalu dan akan tetap memiliki tempat di hati. Parutan kelapa di atasnya tak hanya sekadar taburan, mereka memberi rasa gurih dan menebarkan aroma khas kelapa yang membuat lapar. Kuah gula merah....saus yang jauh lebih “membumi” dari butterscotch atau salted caramel sauce, menyebar di seluruh penjuru mulut lalu manisnya menenangkan sang kelapa agar tak terlalu gurih.

Lupis. Ia memori dalam balutan gula merah. Setiap lapisan rasanya adalah representasi masa kecil, semangat mata pencaharian dan dalam Street Food by Netflix episode Yogyakarta...kegigihan Mbah Satinem untuk mengenang cinta Ibunya. And I eat lupis to remember my family's tradition and of course my beloved late father


Ah...esok saya harus mencari kue lupis di pasar. Lupakan sejenak tumpukan lemak yang bersarang di perut setelah lebaran.

Love,

Allysa
Wednesday, April 17, 2019

Belajar tentang Kerapuhan dari Pavlova yang Ambyar

Tahun 2010 menjadi waktu bersejarah bagi saya dan keluarga karena kami akhirnya memasang tv kabel hingga menumpang nonton TLC/AFC tak lagi harus berjubel di rumah saudara yang lebih kaya. Dengan paket tv murah, saya dan Ibu mulai ketagihan menonton acara-acara masak baru yang isinya tak lagi Ibu Siska atau Mas Rudy.


“Ganteng banget itu chefnya!” Ujar saya dalam hati saat mata terpaku di hadapan tv 30inch yang dibeli dari hasil uang pernikahan kakak.

Belajar tentang Kerapuhan dari Pavlova yang Ambyar - Jamie Oliver

Jamie Oliver the Naked Chef  dan saat itu pula daftar koki favorit saya bertambah. Di luar koki Indonesia saya tentu saja hanya mengenal Gordon Ramsay, well who doesn't? Saya ingat betul kala pertama menonton acara Jamie Oliver, Ia sedang menunjukkan bagaimana caranya memanggang daging kambing. “Orang Indonesia mah jago nih mengolah kambing! Gampang pasti!” Pikir saya.

Malu benar saya dibuatnya ketika Jamie Oliver menunjukkan cara yang luar biasa asing hingga meneror pikiran saya. Daging kambing harus dilumuri berbagai minyak zaitun, rempah, garam dan lada hitam, didiamkan lalu dipanggang sebentar di atas pan panas bersama mentega dan bawang putih lalu dipanggang dalam oven selama beberapa waktu. WOW!!!!!! Selama ini saya hanya tahu kambing disate atau direbus hingga menjadi sop, kesukaan (alm) Bapak. Jadi kambing bisa dibuat kayak steak gitu yah? Norak betul!!!Sudahlah baru punya tv kabel, baru tahu pula cara memanggang kambing. Namun tak apalah, lebih baik belajar sedikit demi sedikit, toh itu niat saya belajar tentang dunia boga.

List koki favorit saya bertambah dan suatu hari tv menayangkan program masak Donna Hay, seorang chef dan pengusaha asal Australia. Donna Hay menyihir saya dengan resep-resep mudahnya. Saya pernah mencoba Frozen Yogurt yang ternyata hanya berupa campuran plain yogurt, frozen mango and banana lalu diblender dan didiamkan semalaman. That bastard was so delicious I made a declaration to eat it till the day I die but that for sure won't happen. Unless I wanna die with diabetes.

Belajar tentang Kerapuhan dari Pavlova yang Ambyar - Anna Pavlova


Yang kembali membuat mata saya mengerling bak baju barbie palsu adalah resep Pavlova. What the hell was that? Dengan laptop super besar dan koneksi internet seadanya, saya mulai mencari arti Pavlova. Wikipedia menuliskan bahwa Pavlova adalah hidangan penutup yang namanya diambil dari nama seorang Ballerina asal Russia “Anna Pavlova”. Pavlova merupakan hidangan berbasis telur putih yang dikocok kaku bersama gula, zat asam lalu dipanggang dan dihiasi dengan krim kental/buah.

“Menarik” pikir saya. Ibu yang kebetulan juga tertarik dengan dessert bak marshmallow ini pun mengajak saya untuk berbelanja telur dan mencobanya.

Jika bisa berlebihan, maka saya akan bilang sudah ratusan telur kami pecahkan, kuning dan putih dipisahkan, memanggang namun setelahnya tak sudi memakan. Yeap siapa sudi memakan putih telur setengah gosong yang merata dengan loyang? Ibu dan saya akhirnya menyerah. Ntah apa yang salah karena langkah demi langkah sudah dilakukan.

Delapan tahun kemudian saya memberanikan diri untuk kembali mencoba membuat pavlova setelah puluhan resep saya baca dan pelajari. Pilihan jatuh pada resep Zoebakes, seorang pastry chef dan food instagramer asal Amerika yang gemar memberi resep berikut step by stepnya melalui Instagram Story. What a great way to help amateurs.

Mangkuk stainless steel telah dibersihkan, mixer mengilap tak bercela, bahan-bahan berjajar bak prajurit hendak berperang. It's time!

Belajar tentang Kerapuhan dari Pavlova yang Ambyar - Pavlova

Pavlova dipanggang dengan api besar selama setengah jam lalu api perlahan dikecilkan dan biarkan sang putih telur membentuk cangkang baru bertekstur renyah selama 45 menit berikutnya.

Proses membuat Pavlova tak hanya menyita waktu (apalagi kita harus mendiamkannya di oven panas yang sudah dimatikan apinya selama satu jam setelah selesai dipanggang) tapi juga tenaga. Untunglah matahari belum sempat tenggelam setelah Pavlova selesai. Foto yang bagus masih mungkin masih bisa saya dapatkan walau jam terus bergeser.

Belajar tentang Kerapuhan dari Pavlova yang Ambyar - Pavlova 2

Pavlova pun terlihat cantik dengan ukuran yang sedikit lebih besar dari seharusnya. Kesalahannya adalah, saya terlalu besar membentuk lingkaran di atas kertas panggang. Karena putih telur akan melebar dan lebih cepat mengering saat dipanggang. Lesson learned!!!

Krim kental sudah dikocok kaku dengan gula bubuk, dadih lemon berwarna kuning mengilap sudah jadi, buah-buahan segar pun sudah kering setelah dibersihkan. Inilah saatnya menghias!! Tentu saya tak terlalu menyukai kegiatan mempercantik ini, tapi apa bagusnya pavlova raksasa tanpa hiasan?
 
Belajar tentang Kerapuhan dari Pavlova yang Ambyar - Pavlova 3

Saya mulai dengan meratakan krim kental di tengah kawah meringue, lalu dadih lemon barulah buah-buahan berupa berries!

Air mata jatuh dari ujung mata. Akhirnya saya bisa membuat hidangan penutup gila ini! Membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mempelajari kesalahan dan mengemas tekniknya. Belum lagi alat serta bahan yang tak kalah krusialnya dalam pembuatan Pavlova.

“Krak!”

Belajar tentang Kerapuhan dari Pavlova yang Ambyar

Belum selesai saya berpuas diri, kawah krispi meringue di tengah itu jebol, bak plafon kamar saya yang menyedihkan. Bedanya Pavlova ini masih tetap terlihat menggiurkan dan kamar saya tentu saja tidak secantik ini.

Benar kata Donna Hay, jangan terlalu banyak menghiasi Pavlova mu dengan bahan yang memberatkan. Krim kental kocok plus dadih lemon memang perpaduan roller coaster di lidah dan kilap bintang di mata. Namun jika menumpuknya dengan takaran yang tidak proposional seperti yang saya lakukan, you'll face a disaster.

Ah well, saya masih bertekad untuk mencicipinya.

TBH, saya tahu tekstur meringue tapi tidak pernah betul-betul mencoba Pavlova. Ekspektasi tekstur renyah yang siap membanjiri rongga mulut dengan saliva dari dinding kanan kiri ketika Pavlova menyentuh gigi harus saya telan bulat-bulat begitu merasakan “marshmallowy-texture” instead of crunchiness.

Pavlova bukanlah hidangan yang tepat untuk pasien penderita diabetes karena rasanya betul-betul manis! Krim kental, dadih lemon dan buah-buahan berhasil sedikit memudarkan rasa manis yang membludak.

Ternyata Pavlova mirip dengan torched meringue di atas lemon pie. Awalnya saya sempat berjengit karena merasa seperti sedang memakan telur putih mentah yang tentu saja tidak betul!

Sempat mencari tahu di internet apakah kita bisa mengurangi kadar gula dalam Pavlova dan sayangnya tidak bisa. Mengurangi pemakaian gula dalam Pavlova justru merusak tekstur dan tidak akan menghasilkan meringue yang mengilap.

Yah paling tidak saya sudah mencoba. Saya senang dengan hasilnya walau harus sabar. Saya juga memahami kerapuhan. Tidak ada yang sanggup menahan beban berat sendiri walau nampaknya terasa ringan. Tak menyangka saya akan mempelajarinya dari sepiring Pavlova.


Ps : Untuk resep, silakan klik di sini!


Love,

Allysa