SOCIAL MEDIA

Monday, September 28, 2020

Cerita Dari Sebatang Ketumbar

W.O.W, postingan blog ini sudah lama nangkring di draft. Satu tahun! Bahkan saya sudah lama gak menulis di sini. Jauh sebelum Indonesia akhirnya mengakui kasus pertama Covid-19. Ya, saya pikir 2019 buruk betul, ternyata ada kekacauan luar biasa pada 2020 yang seharusnya terjadi pada tahun 2012, sesuai prediksi menggemparkan di masa lampau.

Apa yang terjadi dalam kurun waktu 8 bulan sejak saya menulis di blog? Saya akhirnya kembali berkarir! Walau pekerjaan ini lepas alias freelance dan pemasukannya tidak mampu untuk membeli tempat pisau magnet yang saya idamkan, saya gembira karena bisa menulis lagi. Menulis kuliner. Tentu berbeda dari pekerjaan yang dulu. Kali ini lebih serius. Lebih jurnalistik. Lebih jujur. Gembira bukan main tetapi di saat yang bersamaan, saya menyadari bahwa waktu untuk menulis secara personal jadi sirna. Jangan bayangkan sesibuk apa saya dengan pekerjaan ini karena gak sibuk-sibuk amat, kok! 

Dengan terjadinya pandemi sejak Maret hingga kini, saya banyak memberi fokus pada kebun guna menjaga ketenangan batin. Saya tidak bisa datang konseling, maka harus mencari alternatif agar emosi dapat tumpah ruah dengan sehat and gardening is the only answer. Kebanyakan tanaman yang saya semai dari biji adalah sayuran. Dengan aneka metode yang telah dipelajari selama dua tahun belakangan ini, saya dan suami mengerjakan proyek bedeng (garden bed), menanam semua sayuran dengan cara organik tanpa bahan kimia sama sekali.

Kegagalan acap kali terjadi, terutama dalam proses semai. Ada saja masalahnya mulai dari biji dimakan hewan kecil, nutrisi tanah tak mencukupi untuk tunas bertumbuh, kekeringan ditinggal, sampai benih tidak unggul sehingga tidak muncul tunas sama sekali. 

Salah satu tumbuhan yang getol saya coba tanam adalah ketumbar. Herba tertua yang benihnya sudah ditemukan sejak 5000 SM ini paling membuat saya frustasi karena tidak pernah sesenti pun menunjukkan tanda-tanda kehidupan dari sebijinya. Apa yang salah? Aneka tips dari internet rasanya tidak membantu sama sekali. Apakah kualitas bibitnya? Atau barangkali........saya dikutuk peri ketumbar karena dosa masa lalu?

Wait!

Sebelum loncat pada kesimpulan bahwa saya dikutuk, ada baiknya saya bawa kalian semua ke masa lalu. Tepatnya pada tahun 2009 di salah satu restoran Vietnam di bilangan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Saya dan beberapa anggota keluarga besar baru saja keluar dari tempat karaoke dan menginginkan sesuatu untuk dimakan. Salah seorang tante yang ternyata gemar hidangan khas Vietnam mengusulkan untuk singgah di restoran itu karena masih buka walau sudah cukup malam.

Pengetahuan saya tentang Vietnam hanya sebatas TAHU nama ibukotanya dan fakta bahwa Vietnam anggota ASEAN. Dengan modal tak mau dianggap katro, saya main pesan saja, entah apa. Datanglah aneka sayuran dengan beberapa potong daging tipis dihiasi ketumbat. Di bawah daging itu ada sesuatu yang saya kira MIE. Saya susun makanan di atas sendok. Mie, daging, dan ketumbar. (sebagai informasi, saya belum tahu juga kalau itu ketumbar apalagi tahu rasanya. Saya pikir itu daun bawang) lalu HAP. Mengunyah, mengecap. MOMUNTAH!

Aneka aroma merasuki tenggorokan, menyebar ke indera penciuman. Menyabeti dinding dalam hidung secara intens bak pertarungan lightsaber sengit antara Kylo Ren dan Rey. Mie yang palsu ini ternyata helaian tauge. Bagaimana cara orang Vietnam menanam tauge sampai sepanjang dan setebal ini? Mengapa aroma dan rasa daun ketumbar terasa seperti kenangan buruk saat dulu membaca buku 'Siksa Neraka'?

Tentunya saya tidak lantas memuntahkan makanan. Dengan air mata di ujung mata serta doa-doa pertaubatan yang dipanjat dalam diam, saya memberanikan diri untuk menelan kunyahan bombastis di mulut. Satu masalah selesai, datang lah masalah selanjutnya. Bagaimana menghabiskan makanan ini? Karena setelah tengok kanan kiri tak ada yang menyadari raut wajah saya, maka saya putuskan untuk hanya menelan sisa-sisa irisan daging dicelup kecap asin pedas.

Tidak semua orang suka dengan aroma herba, apalagi secara sukarela menyuapkannya ke dalam mulut sendiri. Sebagian tidak terbiasa dengan herba karena di tempat Ia tinggal tak tersedia jenis-jenis tertentu. Sebagian lagi memang tidak suka dengan bau-bau yang tajam. Sebagian lagi adalah anak kecil yang belum memahami nikmat surgawi alias delicacy.

Saya di tahun 2009 adalah contoh terakhir. Setelah kejadian buruk itu, saya menghindari menambahkan ketumbar pada makanan, terutama ketika berkunjung ke resto khas negara-negara ASEAN seperti Vietnam, Thailand, Singapura. Di Indonesia sendiri untungnya lebih sering menggunakan ketumbar bubuk (yang dihaluskan bijinya) dalam bumbu dari pada daunnya.

Kembali ke masa kekinian. Saya dengan akal yang semakin 'berakal', lidah yang semakin kaya akan pengetahuan rasa, otak yang tak lagi katro dan setara dengan otak anak-anak, kemudian mencoba satu hidangan andalan di Bubur Cap Tiger, Cikajang. Bubur ayam polos dengan ayam panggang.


Daging ayam berkulit cokelat semi-garing dijajarkan dengan apik bak barisan anak pramuka bersama potongan julienne jahe kupas, telur pitan, dan...musuh lama saya, daun ketumbar. Beranikah saya mencoba ketumbar? Mampukah saya melunturkan kebencian pada ketumbar sama seperti saya akhirnya menyerah pada petai yang dicampur sambal?

Harga diri sebagai seorang penulis makanan dipertaruhkan. Pada tahun 2019, tahun terburuk (Saat itu) dalam hidup, saya akhirnya mengunyah daun ketumbar bersama daging ayam panggang dan mencocolkannya dalam saus kecap asin.



Rosemary sangat cocok dengan ayam dan kentang. Aroma rosemary mentah yang mirip dengan kayu putih tidak mencolok nostril tetapi justru membantu ayam dan kentang mencapai level kenikmatan yang tak terbayangkan.

Sama halnya dengan basil dan tomat. Asam, manis tomat justru hanya berhasil ditemukan jika basil menggandengnya mesra.

Kini apa yang terjadi pada suapan daun ketumbar, ayam panggang, jahe dan kecap asin adalah takdir. Mereka ditakdirkan untuk bahu membahu menorehkan memori pada lidah dan menyimpannya dalam salah satu laci di otak. Aroma jahe dan daun ketumbar saling mencabik pakaian, melahirkan aroma yang kemudian dikawinkan lagi dengan aroma smokey dari ayam panggang. Pedas dan tajam sengaja menginjak-injak lidah agar kemudian dapat diobati dengan air dari daging ayam dan kecap asin.

Ragu.
Bingung.
Penasaran.

Ternyata daun ketumbar lebih cocok dengan campuran kecap asin. Daun ketumbar meninggalkan rasa kering yang hanya bisa disandingkan dengan kecap asin. Merekalah kombo yang sesungguhnya. Mereka yang berperan dalam mengangkan rasa ayam dengan jahe.

Ah, daun ketumbar.

Mana tahu saya akan tergila-gila denganmu.

Kini obsesi saya adalah menanamnya sendiri di kebun. Walau masih sulit mewujudkannya, tetapi impian memanen daun ketumbar untuk dimakan bersama gyoza tetap ada. Dan saya pun berkawan baik dengan ketumbar.

LOVE,

Allysa
Sunday, November 17, 2019

How Serious is the Magic Behind Indonesian Food?

If you're wondering how maybe millions of people around the world love Asian cuisine the answer is in its valuable culture we put on every dishes.

Not that European Cuisine such as Duck Confit or Tarte Tartin aren't filled with love and respect for the culture... it's just that Asian cuisine are bold enough to throw a sandal to you, just like our Asian moms whenever they get angry.

From east to west, Asian's flavors have been manipulate our mind thru its magic. Playing with our tongues and slurping in every corner. The food are so good, it sparks all the basic senses. Till the last spoon, the brain has been blown away. "I want more!!!!!!!"


Well not that everything is so perfect, no flaws at all. Still sometimes I don't get the idea behind some weird dishes. I mean...why would anyone eat that? That looks disgusting, man! 
How Serious is the Magic Behind Indonesian Food?
Fried fish by my mom-in-law

Even in my country, Indonesia...there are tons of weird food. I'm not talking about the weird (apparently popular) hipster food, I'm talking about the weird traditional food. Ain't gonna say what... it'll cause problems. It's enough we've been bean boozled by ridiculous political stuff. I don't wanna add more gasoline.

Speaking of Indonesia….I can't say much about other's country culinary cultures because am gonna talk about my beloved country instead. A country which represents the best Asian culinary arts. (I'm sorry Japan, you're delicious too but I'm defending my country first)

What's so special with our traditional food? Well Ladies and Gentlemen, it'll take forever to explain it so let me make it fast.

There are a lot of soup dishes in the world. Every country have one, the best one, the worst, -the side dish only-one and so on. In Indonesia, soup is more than anything. I know we're not like Korea, they also have a lot of soup's recipes passed on from generation to generation (kimchi jjigae, and another jjigae) but Indonesian eat soups like crrrrraaaaaayyyyzeeeehhh.

In some part of the world, you eat soups to warm up your body from the cold or chilly weather. Not here baby...from Sabang to Merauke, we eat soups for sweat whether it's during hot weather or thunderstorms. I have never read a scientific research about it but I can say...pretty...sure...that Indonesians are always looking for a hot juicy drip of sweat. I'm sorry if it sounds disgusting. I'm one of them maaaan, I said it...I eat a bowl of hot frickin soup in a day light and add few teaspoons of frickin hot chilly sambal on it. 

Soup is always part of the entree dish in a fancy restaurant. Served in a small bowl with a small portion, idk why. Sometimes it's hot, warm and there are cold soup...I can'even....

Glad I can eat a big bowl of hot soup for my main dish here. As I said before Indonesian taking soup seriously and to the next level.

The variety of soups are incredibly much or maybe uncountable. We have Soto, a traditional dish which consists of stock (cooked separately usually with chicken bones or beef bones but not really thick) and meat (chicken/beef/innards). 

Different city means different kind of soto. In Jakarta we have Soto Betawi. Instead of just a regular stock we also add coconut milk to create umami and to thickens the soup. Beef, tomato slices, fried potatoes and emping (traditional crackers) are the whole point of Soto Betawi.

In Lamongan, East Java, they have the most popular soto in this country which is Soto Lamongan. This is the most savory soto in my opinion. It consists of tasteful yellowish Chicken stock, shredded chicken meat (ayam kampung, this is what makes it gewwwwddd), leek, sometimes boiled egg and koya. Koya is the important ingredient in Soto Lamongan. It's actually a ground shrimp crackers and I had no idea that this heavenly powder could make such a huge impact on a dish. Thank you Lamongan, I love you…

In Sumatra they also have various of soto. Soto Padang, Soto Medan. Soto Banjar from Kalimantan. Coto Makassar from Sulawesi (this is my favorite thanks to my Husband. Damn now I'm craving for a bowl of Coto Makassar. It's too good I can't take it anymore!!).

I think the only area that has no soto is East Indonesia. They do have some sort of soups dishes but soto? I never heard of that. East Indonesia's dish are usually seafood because the regions are the wealthiest maritime. But I might have to visit East Indonesia to find out. 

Woow 700+ words and I only talk about Soto? Of course our food isn't only a bowl of soto. This is actually proof of how rich our traditional food are that I can't even stop talking about soto. Oh and if we’re still on board with talking about soup, Indonesia also have bakso (meatball), how can you ever compete with that? Oh...you don’t wanna talk about soup again? Okay then, moving on!!!

Indonesians eat rice as the main source of nourishment. Tho too much nasi/rice isn't good for you, most of Indonesian are still believe that "You're not eating unless it's rice". No wonder our number one killer is diabetes...maybe..we should consider to think twice before we eat rice #rhymingbaby.

Nevertheless, rice is actually a common main dish in Asia. Japanese, Chinese, Malaysian, Koreans and so on. They too eat rice. That's why the variations of rice dish are uncanny. 

We're not the inventor of Nasi Goreng (fried rice) but people from around the world knows the best kind is from Indonesia (THANK YOU CHINESE-INDONESIA ANCESTERS!!). Don’t be lazy, google it yourself about our nasi goreng. Even the youtubers tryna imitate our recipes.

Just like all the other food, nasi goreng recipes aren’t the same to each other. Almost any families here have their own recipe. Mine for example, I can’t make nasi goreng as good as my mother’s. She usually put only a tiny splash of sweet soy sauce whilst the nasi goreng seller in my block uses lots of it. Sometimes it can be too sweet because of the soy sauce. Sometimes it has no color, like a simple cooked white rice but the flavour is richer than the darker one. 

The technique to make a good nasi goreng is not a joke. You need to stir it well otherwise you’ll received no flavor at all and you will definitely bite a tiny block of salt because of your lack of stirring. Please don’t be such a lazy donkey when it comes to making nasi goreng. 

Some people are not taking nasi goreng seriously they treat this special dish as if it’s not the most delicious food in the world. The result is as you can guess, so bland even my sweat tastes better. (Just realized how disgusting it is to compare nasi goreng and sweat but please understand I’M WORRY SICK ABOUT THE FUTURE OF DELICIOUS NASI GORENG!!!!!)

The list didn’t stop there because our culture grows everyday. I see some shitty f&b business owners trying to create some weird stuff with our traditional food. Sometimes it works, sometimes it’s such a huge failure, I mean..c’mon….Ceker Cokelat Keju? WHY?
How Serious is the Magic Behind Indonesian Food?
Sambal

As a forever fan of Indonesian normal food, I hope we take a step back and educate ourselves on how the culture inside our traditional food has been formed in the first place. It’s important to prevent a case like where rendang actually came from in the future. We can also stop some of the rare dishes like Sayur Babanci (Batavian traditional Food) from disappearing completely.

Write the memoirs, read the legends. We need our traditional cuisine to shine forever because it's seriously MAGICAL.

Love,

ALLYSA
Tuesday, August 27, 2019

What Went Wrong With the Culinary Field in Indonesia?

One time I went for an interview and the job was exciting because it's my dream job. The interviewer was asking me lots of questions but I'm not a good talker (might need to fix that) and she might get the idea that I wasn't smart in the field.

She asked me whether I can cook or not and what kind of food I love the most. I told her immediately "ITALIAN FOOD".

Then...I wasn't sure if it was a mockery or what but she asked me "By Italian food you mean pasta? Cause that's not cooking" and I believe she was refering to amateur kind of pasta but I was confused. I'm smart in this field, and I know lots of Italian cuisine but somehow she wasn't impressed by it. Maybe she was really great she didn't see my potential. But that's okay ain't gonna talk about it, instead I'm going to talk how in this country, to understand a good food you need to be in an exclusive circle.

There's a phenomenon when becoming a food instagrammer is really important in Indonesia. In just one year, tons of food reviewers account are dominating the Instagram world. I see the phenomenon is also happening in Thailand.
What Went Wrong With the Culinary Field in Indonesia?

Which is a very great thing. It's a fortunate opportunity for the people who's in the business. Online food sellers are on fire with their sales, natuurlijk. New restaurants are racing to introduce their menu via Food Instagrammers. Isn't life getting gewd?

Then comes a time where it's getting unbearable. Somehow people understand the real essence of true cuisine. I saw one video on Instagram where the reviewer said that the matcha dessert had a umami taste. I've tasted that dessert, it's an insult in my face because I love the dessert and that's not a proper word to describe how magnificent the taste of the food really was. I'm devastated.

I enjoy foodstagrammer's videos, but we as the people in the culinary field need to learn the correct way of describing the flavours thru our senses. We need to learn how to cook. We should...unquestionably do some research, starting with all of the ingredients that later we'll put in our mouth.
What Went Wrong With the Culinary Field in Indonesia?

But...another sad facts...to learn about it we need to get into the exclusive circles. I don't know why learning about food isn't really a thing in my country. People would just eat stuff and never bother to know where it comes from. There are only a few little peer groups and Idk...I see it as those people in fashion, exclusive people only.


Just like that interviewer asked me case. She understood well that a large group of people know PASTA as the only ITALIAN FOOD. She might be surprise if she finds out that some of us know le mozzarella fritte e le polpettine. 

Maybe that's the reason why culinary school is expensive. Like really expensive, even for a short course. If you want to learn a bit deeper about culinary, then you can choose the hospitality school. But again, no spesific majors like Culinary arts or Pastry arts or Bread baking. All of them are available in the form of short courses which is...again...massively expensive.

I'm really sad about this industry in my country. If those who have the privileges would like to give it back to the community, it would be great. Maybe this is also the reason why the Chefs are usually men rather than women. Women usually learn how to cook for the sake of their husbands or to create a catering, it's good but I want them to understand about food a bit deeper than they have.

My lovely moment was during UNI I was the leader of my UNI's cooking club and that was the time when I see men and women both had the interests in culinary world. Me and my teams weren't only teach them how to cook, we taught them about the ingredients, about the knives, about all kind of pasta shapes, names and so. It was the best time of my life, because we learned together and cooking isn't only cooking. It's always more than that, it's a revelation in life. Genderless, the poor the rich are the same, they have the same opportunity only the good one will raise.
What Went Wrong With the Culinary Field in Indonesia? - Bondan Winarno
Source : CNN Indonesia

I adore lots of people in culinary especially in my country. There are some of the food writer, food enthusiast and my favorite is always Bondan Winarno (Rest in Peace). He broke the national TV with his knowledges of traditional food and people were enjoying it. Most of them learned something everytime after the episode of his show. He's like...Anthony Bourdain of Indonesia.

The show was in Bahasa, so of course everyone would understand what he said. He visited the locals, so everyone would not be confused when in the future they come to the city. He told you how to enjoy the plate and the proper way to have it into your belly. It was the most beautiful Indonesian tv show in my opinion. And I miss him so dearly.
What Went Wrong With the Culinary Field in Indonesia? -  SENIRASA

In the writing world, I adore Ms. Rima Sjoekri so bad. She wrote a book about knowing the local ingredients (SENI RASA : Teman Resep Masakan Indonesia)  and I must say if you want to become a local chef, you need the book as your pocket emergency book. IT'S ONCE AGAIN I SAY IT...A REVELATION.

She didn't only listed the ingredients, she told us what flavor that those ingredients have. Is it sour? Sweet? Bitter? On what kind of dishes that these ingredients are perfect for. I LOVE IT SO MUCH! It's what I mean by giving the knowledges to the community.

Culinary should be for everyone who wants to learn about it. Not only for me who understand a bit in English, but for those who don't speak one. It should be found in every corner, so we finally figure it out what we put in our mouth and how it will affect our body.

I believe, one of the reason why Diabetic, Heart attack, and obesity are common, it's because we fo sho...don't undestand what we eat. Damn....

I hope I can be one of those people who contribute more in the culinary field for the community without the needs to make it exclusive. So later, that instagrammer will learn the proper way to use the word UMAMI to describe her food ;D

Let's change the way we represent this field!

CIAO,

Allysa
Wednesday, May 16, 2018

Serasa Salad Bar Cipete - Sekotak Pelangi Bernutrisi

A bowl of salad is definitely boring and mostly weird. Begitu sih yang gue pikirkan bertahun-tahun lalu sebelum menemukan makanan sehat yang nikmat.

Kemudian pelan-pelan Ibukota serasa sadar diri kalau tak hanya seblak dan martabak saja yang wajib enak dan variatif, tapi makanan sehat pun juga harus enjoyable serta kreatif. Maka bermunculan lah restoran atau kafe dengan konsep healthy food. Banyak penggemarnya karena masyarakat milenial pun mulai melek kalau setangkup burger tak akan membuat mereka mati dengan damai. Ditambah lagi hidup sehat adalah trend baik yang nampak keren saat diunggah di Instagram. It's not a bad thing tho, healthy lifestyle is a must whether it's a trend or not.
Serasa Salad Bar = Sekotak Pelangi Bernutrisi - Salad Roll

Sunday, February 25, 2018

Make some Sweet Love with Cold Moo Swirls Dharmawangsa

Are you a sweet-tooth kinda guy? Because when you are, you can join my club of “People who can not get over desserts!” And if you don’t, you might want to consider reading this post, change your mind and just join our club.

I’m so into desserts that I learned how to bake back in 2011. Whenever I want a cake or any kind of desserts, I just simply go into my kitchen and make one. But still, buying desserts is more efficient than making it in my opinion, hehe.

When I was a little girl, one of my biggest dream was to eat a lot of ice cream. Why? Well it’s just because ice cream makes me happy. I still dreaming about that tho, but I’m just pretty realistic nowadays because too much ice cream can make my brain go freeze for hours. But srsly, who doesn’t feel happy when it comes to eating your favorite ice cream?

Make some Sweet Love with Cold Moo

Thursday, November 30, 2017

Sate Petir Pak Nano, Menggelegar di Lidah!

Menurut gue, dunia kuliner itu banyak banget menyimpan misteri. Bukaaan kayak misteri gunung Merapi sob, tapi salah satunya kayak...you just can't always predict what's next. Hari ini semua orang makan sate taichan, besoknya tahu-tahu kale salad is number one menu in every restaurants. Benar-benar who knows...SNAP just like that.

But one thing yang selalu gue kagumi dari dunia kuliner adalah ada saja mereka yang bertahan lama tidak terkubur dengan tren. Martabak, biarpun isiannya sekarang ada Nutella sampai suwiran salmon, tapi martabak telor dua abang-abang pinggir jalan yang tidak lekang oleh waktu. Pisang goreng, mau dikasih toping chocomaltine kek, ditabur meses warna-warni sampe ampyar-ampyar, tetep aja pisang goreng buatan emak anget-anget dimakan pas sore hari lebih dahsyat.



Sama kayak Sate Petir Pak Nano di daerah Ring Road Selatan, Bantul, Yogja. Pak Nano, pria paruh baya yang super ramah dan gemar mengupas bawang (kebetulan aja pas kemaren gue datang Beliau lagi ngupas bawang) ini sudah berjualan sate petir sejak saya belum lahir. Apa sih sate petir? Kalau didengar dari namanya saja sih kelihatannya JDUAAAR gitu yah and you're right...Sekali makan sate ini lidah mu bak disambar petir, BUSET PEDES BENEEER!!


Ceritanya waktu ke Jogja kemarin, gue udah ngiler kepengin cobain Sate Petir Pak Nano ini. Lokasinya gak terlalu jauh dari hotel di Prawirotaman, tapi ternyata jauh dari lokasi saya saat itu alias di kota karena lagi iseng main ke kedai kopi. Sejam lebih kita berkendara motor menuju Ring Road Selatan, pakai salah muter lagi. Kenapa di Jogja 9 km aja terasa jauh yah? Di Jakarta kayaknya deket bener, lama di macet #mejikofJogja.



#JJJ - Sate Petir Pak Nano, Menggelegar di Lidah!
www.ceritamakan.com
#JJJ - Sate Petir Pak Nano, Menggelegar di Lidah! - sate petir nano
Beberapa foto yang selamat dari File

Friday, September 1, 2017

Hayati Specialty Coffee Jogja : Bang, Hayati Lelah Bang!!!

Di wilayah Jakarta dan sekitarnya, trend nongkrong di kedai kopi memang masih belum redup. Apalagi sejak kepopuleran Es Kopi Susu Tetangga Tuku melonjak, masyarakat gaul dari berbagai kelas semakin intens nongkrong di coffee shop sambil memenuhi lambungnya dengan kafein. Yang penting mah jangan lupa makan dulu sebelum ngupi~

Menyesap kopi memang sungguhlah nikmat. Kebanyakan dari kita yang selama ini buta sama kopi karena cuma tahu kopi instan tinggal seduh, sekarang jadi lebih ngerti kalau ternyata ada beberapa cara untuk mendapatkan secangkir kopi yang aduhai nikmatnya. Di Jogja, kita juga bisa mendapatkan secangkir kopi nikmat nyaris di setiap sudut kota lho. Ada kopi joss, ada kopi pinggir jalan dan tentunya aneka coffee shop yang nggak kalah kekinian kayak di Jakarta.
Hayati Specialty Coffee Jogja : Bang, Hayati Lelah Bang!

Waktu ke Jogja beberapa waktu lalu, gue sempetin mampir ke Hayati Speciality Coffee untuk melepas letih setelah muter-muter menikmati karya seni di ArtJog 2017. Hayati Speciality Coffee berlokasi di Jl. Demangan Baru, tepatnya sih di deket toko pakaian, tapi lupa nama toko pakaiannya apa, hehe.



Thursday, August 10, 2017

Chizprek.Co - Trend Ayam Geprek Kini Sampai ke Bekasi!

Sejak melabuhkan diri di Jogja dan menikmati Ayam Geprek Bu Rum, gue bener-bener merasa ketagihan dengan hidangan super sederhana ini. "Belum pernah makan ayam geprek yang WAAAAH" adalah salah satu alasan kenapa sampai di Bekasi gue hampir tiap hari kerjaannya liatin IG dan Daftar restoran di GoFood. To find the best Ayam Geprek in town.

Trend ayam geprek ternyata benar-benar melejit di Ibukota. Beberapa kali lihat postingan teman dan Food Bloggers yang bilang kalau "Ayam Geprek Mas Ini enaaaak..." "Ayam Geprek Si Ini enaaak...." "Ayam Geprek Anu enaaak...." Kamvrednya rata-rata ayam geprek itu lokasinya jauuuuuhhhh banget dari Planet Bekasi :(. Beda banget dengan di Jogja, dimana-mana ada warung ayam geprek, Rp. 10.000 udah dapet nasi, sayur sepuasnya dan minum. Di Jabodetabek harganya jadi dua kali lipat dan lokasinya agak jauh-jauh.

Sampai pada akhirnya beberapa saat lalu gue iseng liatin Instagram Bekasi Food dan lihat salah satu postingannya perihal tempat makan ayam geprek terbaru di daerah Bekasi Timur, namanya Chizprek. Wooohh di Bekasi ada yang beginian dan lokasinya juga gak sampe 15km kayak lokasi ayam geprek artis itu di Harapan Indah (gue baru tahu kalau HI sejauh itu dari rumah). Langsunglah coba pesan via GoFood tanpa basa-basi. Sempat deg-degan karena gue hampir gak pernah pesan makanan via ojek online jaraknya lebih dari 5km.

Chizprek.Co - Trend Ayam Geprek Kini Sampai ke Bekasi!

Alhamdulillah ada yang ambilan orderan dan setengah jam lebih dikit kemudian gue terpukau dibuatnya.


Sunday, July 30, 2017

Jalan Jalan Jogja - Tempo Gelato Kaliurang

Ada ribuan alasan mengapa Jogja selalu bikin gue kangen. Pantai-pantai yang terhampar di Gunung Kidul, panoramanya, makanan enak dan murah yang ada dimana-mana, tempat wisata yang semakin ke sini semakin kreatif tampilannya dan suasana sore hari yang somehow just thinking about it makes me wanna buy a ticket to Jogja. Every air you breath in Jogja kayaknya memang ada kekuatan magisnya. Dihipnotis biar kepengin balik terus, LOL~
Jalan Jalan Jogja - Il Tempo del Gelato Kaliurang


Monday, November 7, 2016

Sushi Masa - Penjaringan : Tak Terlupa Sepanjang MASA

Seperti yang udah kalian baca di post-an gue sebelumnya, sushi terenak yang pernah gue coba seumur hidup gue adalah Sushi Masa di Penjaringan, Pluit. Bisa dibilang saat-saat gue makan di Sushi Masa adalah masa paling membahagiakan apalagi waktu itu makannya gratis dan sepuasnya. Serasa orang desa masuk kota.

Sushi Masa - Penjaringan : Tak Terlupa Sepanjang MASA - resto

Bulan Januari lalu gue dan dua orang kantor (ex kantor yah~) diundang untuk datang ke Hokkaido Fair yang diadakan oleh Cool Hokkaido Co. Ltd sebagai bentuk kerja sama antara Hokkaido-Indonesia. Kurang lebih yang gue baca begitu sih, nggak mungkin mereka bikin acara cuma iseng-iseng aja. 


Monday, October 24, 2016

Abura Soba Yamatoten Kota Kasablanka

Sabtu, 22 Oktober lalu, Abura Soba Yamatoten membuka cabang terbarunya di Jakarta Selatan. Lebih tepatnya di mall kesayangan orang Tebet alias Kota Kasablanka. Bagi kalian yang belum tahu apa sih Abura Soba Yamatoten?


Well, gue sebenernya juga baru ngrasain pas hari Sabtu kemarin berkumpul bersama ke-dua sahabat. Salah satu dari sahabat gue yang suka banget sama Abura Soba bilang kalau mereka baru buka di KoKas, jadi lah kita cusss ke KoKas dengan kendaraan online. Apa itu kendaraan online?

Sejauh yang gue tahu, Abura Soba Yamatoten itu awalnya hanya buka di Pantai Indah Kapuk. Surga kuliner ter-gaul se Ibukota DKI Jakarta. Sukses dengan outlet di PIK, mereka akhirnya membuka cabang di Grand Indonesia, Jakarta Pusat. Jadi orang-orang tidak perlu jauh-jauh mendaki gunung lewati lembah menuju PIK.

Abura Soba Yamatoten Kota Kasablanka - Abura Soba Chicken


Friday, October 21, 2016

Allysa & Sushi : Sejarah Tak Perlu Berdarah

Waktu kecil, gue adalah salah satu anak piyik yang gemar banget baca komik dan nonton anime. Yeaap, sebagai anak generasi 90-an kedua ritual tersebut kayaknya sudah jadi kewajiban yah bukan lagi sebagai hobi.

Allysa & Sushi : Sejarah Tak Perlu Berdarah - Sushi
Me whenever i eat sushi

Dalam manga dan anime, sering kali kita lihat betapa nikmatnya para tokoh saat menyantap sepiring makanan berupa nasi dengan potongan daging ikan mentah di atasnya. Waktu itu gue belum tahu namanya apa, tapi gue tahu mamanya Crayon Sinchan suka banget sama makanan tersebut!

Beranjak gede-an dikit, gue mulai mencari tahu nama makanan tersebut. Woh ternyata namanya sushi, sob!! KEMANA AJA GUEEE???

Well, sebenarnya waktu itu gue tahu dari saudara-saudara gue yang berpunya. Mereka kerap kali pamer "sushi tuh enak lhoo syalalalalla~" dan kalimat pamer lainnya yang hanya bikin gue ngiler, super penasaran se-nikmat apa sih sushi?


Saturday, October 15, 2016

[UPDATED] Apple Pie Mcdonald's Indonesia

Mcdonald's Indonesia akhirnya membawa kawan lama generasi 90an kembali. Oooh bukan...bukan mainan jungkat-jungkit berbentuk si Birdie, yakali kalian udah sebesar alaihim masih mau main jungkat-jungkit. Uhuh, Mcdonald's Indonesia kembali membawa their siganture and heartwarming Apple Pie :')


Waktu semalam gue baca pamflet resmi Mcd, gue nyaris mewek karena tulisan "Pertemuan Kembali Sahabat Lama" dengan font khas nya. Oh maaan, my childhood's favorite is back!!

Gue masih inget banget dulu suka beli apple pie Mcd, mungkin waktu usia gue 5 tahun yah sekitar awal 2000an. Waktu itu bungkus apple pie-nya berwarna hijau dan ukurannya menurut gue sangat mengenyangkan untuk anak ingusan.

Belasan tahun hilang dari peredaran dan kembali dengan bungkusan berwarna merah serta ukuran yang mengecil (sebelum beli aslinya hari ini gue udah dengar desas-desus masalah ukuran), gue sempet ragu apakah rasanya masih seenak dulu? Apakah gue akan mendengar bunyi "kress..." di setiap gigitan? Apa wangi kayu manis dan keharmonisan rasa manis dan asam masih kuat melekat di dalamnya?
Apple Pie Mcdonald's Indonesia - The Menu


Monday, June 6, 2016

Fillmore Coffee : Seperti di Dunia Lain

Oke, maksud dari Seperti di Dunia Lain itu yah suasananya ndak kayak acara yang di tv itu lho. Jadi, jangan aneh-aneh dulu pikirannya karena bisa jadi kalian akan terkejut dengan cerita-cerita selanjutnya.

Seperti biasa, tugas kantor mengharuskan gue datang ke coffee shop baru bernama Fillmore Coffee ini dan meliputnya. Gue sama kekasih diberi tahu bahwa tempatnya nggak jauh dari kantor kita di Kuningan City, yaudah akhirnya berandalkan google maps berangkatlah kita. Nggak sangka sih kalau tempatnya benar-benar nyempil dan nggak kayak coffee shop pada umumnya yang mati-matian berdiri di pusat-pusat kota.
Fillmore Coffee : Seperti di Dunia Lain

Kita masuk gang dan ternyata di pinggir gang super nyempil ini ada semacam kost-kostan bernama Suites@Seven Residence. 

Fillmore Coffee : Seperti di Dunia Lain - Suites@Seven

Yeah, kost-kostan premium sist bukan kost-kostan mahasiswa pada umumnya. Memang agak 'hidden' agar lebih nyaman para penghuninya. Fillmore Coffee ini letaknya persis di dekat parkiran. Buka pagar juga udah kelihatan kok Fillmore-nya.

Fillmore Coffee : Seperti di Dunia Lain - I am home


Monday, May 30, 2016

HOG ETC - Plaza Indonesia : Making out with the Steak

Ah, kenapa gue kalau bikin judul agak-agak absurd yah? Anyway, sekitar sebulanan yang lalu gue dan beberapa orang kantor diundang untuk datang ke sebuah restoran yang terbilang baru di Plaza Indonesia, HOG ETC. HOG stand for House of Grill, karena restoran dengan suasana mewah ini memang menyajikan menu "grill".

HOG ETC - Plaza Indonesia : Making out with the Steak

Gue datang sangat tepat waktu, saking tepatnya ternyata belum ada yang datang, hehe. Alhamdulillah waktu itu gue inisiatif pakai baju yang gak gembel-gembel amat, karena ternyata restoran ini bisa dibilang luxurious dan elegan. Nggak lucu kalau gue dateng-dateng pake kaos dan sepatu keds, untung pake sepatu boots hasil hadiah ultah #eaaak.

HOG ETC - Plaza Indonesia : Making out with the Steak - Chandelier

Sesampainya gue di HOG (level 5, seberang Marco Padang Grill), sang pelayan datang dengan sikap yang profesional dan menawarkan minum. Karena pilihan minumnya ada dua, air putih dan es teh manis, gue pun memilih es teh karena ada rasanya.

Gue perhatiin ambience resto ini emang mewah banget, ditambah dengan chandeliernya yang berbentuk ranting pepohonan. Mereka juga menyediakan bar, so you can choose your own preference drinks. Selain itu, HOG punya ruangan terpisah, dining room untuk makan a la carte dan ruangan grill-nya alias lo bisa manggang sendiri makanan lo. Ala-ala restoran all you can eat gitu.

HOG ETC - Plaza Indonesia : Making out with the Steak - Appetizer

HOG ETC - Plaza Indonesia : Making out with the Steak - Almond Milk
HOG's Almond Milk

Long short story, para tamu undangan akhirnya datang dan acara dimulai. Setelah selesai (kalau mau tahu apaan acaranya, lo klik di sini yah. Ini artikel gue yang bikin), kita semua dipersilakan untuk kembali ke meja tamu dan menunggu untuk dihidangkan makan siang. Yeah baby, this is the best part!

Seafood Salad

Karena pengetahuan gue di dunia kuliner masih sangat cetek dibandingkan orang lain, gue baru tahu kalau salad yang komponennya berupa seafood bisa seringan ini. HOG's Seafood Salad terdiri dari sayuran, cumi, udang, scallop dan dua buah biscotti berwarna hitam.

HOG ETC - Plaza Indonesia : Making out with the Steak - Seafood Salad

Gue masih ingat rasanya yang super nano-nano. Manis, gurih dengan rasa asam yang sedikit mendominasi but in a good way, karena rasa asam dari vinegar dressing ini lah yang mengawinkan setiap komponen dalam salad. Coba bayangin aja, kalau salad yang isiannya agak heavy ini disiram dressing yang creamy, i bet you everyone will get full before they even eat the main dish.

HOG ETC - Plaza Indonesia : Making out with the Steak - Seafood Salad 2

But, the only thing i didn't like from this dish were the big slices of chily. For me, it's better if they put smaller slices, because it'll be more colorful, not wasting the ingredient and also it'll give more fragrants and spicyness.

3,5/5

Entrecote Steak

HOG ETC - Plaza Indonesia : Making out with the Steak - Entrecote Steak

Gue masih belajar banget tentang bagian-bagian daging, dan sangat excited pas datang ke HOG lalu dikasih kesempatan nyobain Entrecote steak (Entrecote adalah bagian daging yang berada di antara tulang rusuk nomor 9 dan 11). Steak mewah ini disajikan di atas piring panas dengan mashed potato , mushroom sauce dan sauteed beans.

HOG ETC - Plaza Indonesia : Making out with the Steak - Entrecote Steak 2

I think their steak was just so tender, yummy and melted in my mouth...yes literally MELTED!!! Daging bermarbled tinggi ini memang lemaknya cukup banyak, tapi lembuuuuuut banget. Dan dagingnya absorbed the mushroom sauce pretty well.

HOG ETC - Plaza Indonesia : Making out with the Steak - Entrecote Steak 3

HOG ETC - Plaza Indonesia : Making out with the Steak - Entrecote Steak 4
Gue juga suka tekstur mashed potatonya yang super lembut and perfectly seasoned! Oh, and don't forget the texture of these crunchy beans~ 

5/5

Ughhh, pengalaman makan di HOG etc ini gak bakalan pernah gue lupain sih, thanks to my office! I'll keep the taste of the food in my tongue and my brain, and when someday i forget about it...i will come back.


House of Grill Etc.

|Alamat: Plaza Indonesia, Lantai 5|
|Jam Buka : 10:00 - 01:00|
|Instagram : @Hog.etc|


Jangan lupa review tempat-tempat makan yang lo kunjungin di www.foody.id yah! Dengan nge-review, upload foto, check-in, dan tambah tempat baru, lo bisa ngumpulin poin untuk nanti di-redeem dengan voucher-voucher restoran yang tentunya menarik!


Love,


Allysa