SOCIAL MEDIA

Saturday, May 5, 2018

Buku Harian Raiza #1 - Mari Kenalan

Halooo, I'm Raiza and I'm taking over Allysa's blog for a personal reason. Mungkin beberapa dari kalian bosan baca tulisan Allysa yang review tempat makanan doang atau any other sentimental posts. Di tahun yang baru ini, gue bakalan ikut mewarnai blog Allysa dengan curhatan-curhatan sinting tentang kehidupan gue.

Raiza Anwar adalah nama singkat, jelas dan padat yang diberikan oleh Oma dan Opa gue satu jam setelah gue lahir pada November 1991 alias 26 tahun yang lalu di tanah Bogor. Walau nama gue lumayan keren, tapi ketika beranjak remaja, makin banyak orang yang mengira gue perempuan setelah mendengar nama gue disebut-sebut. Alhasil gue pernah protes ke Mama, Bapak dan kebebasan berpendapat itu dibalas oleh rentetan omelan yang menjalar sampai ke akar-akarnya alias Bokap Nyokap ngadu ke Oma Opa. Ujung-ujungnya? Yah Oma Opa nyamperin ke rumah lalu menceramahi gue sampai kuping gue budeg tentang asal usul keluarga Anwar. Sungguh sejak saat itu gue memutuskan untuk bersyukur saja dengan nama Raiza Anwar, mau diapain lagi? Dengar-dengar birokrasi ganti nama cukup ribet, yaudahlah yah.
Buku Harian Raiza #1 - Mari Kenalan
Foto ini diambil saat pusing mengerjakan tugas akhir, ingin nangis dan menikah saja.

26 tahun hidup di dunia, berpindah dari satu daerah ke daerah lainnya sangatlah menyenangkan. Bapak sudah puluhan tahun bekerja sebagai botanist dan kami sering pindah-pindah sekeluarga karena pekerjaan Beliau. Gue sih senang-senang aja, yang suka protes yah Mama karena jadi pusing kalau udah kerasan dan mulai ikutan arisan di perumahan yang lagi kita tempati terus tahu-tahu Bapak bilang kita akan pindah lagi.

"AKU KAN BARU AJA MENANG MAAAS, MASA PINDAH LAGI SIIIHHH? NANTI AKU DIKIRA CURANG, KAMU TAHU KAN BU TANTRI ITU KALAU UDAH NGEGOSIP GIMANA??" Protes Mama suatu hari setelah Bapak bilang kita akan pindah ke Bali minggu depan.

"Yaudah kalau gitu kamu di sini dulu saja selama dua bulan, nanti saya yang ke Bali sendirian. Kontrak penelitian di Malang ini kan sudah habis, jadi saya harus segera melakukan penelitian baru di Bali, tuntutan kantor saya, Neng." Ujar Bapak dengan wajah dimelas-melasin. Sa ae emang si Bapak, Mama pasti luluh bentar lagi.

"Aku sih mau aja pindah, kan asyik apalagi ke Bali. Tapi jangan dadakan gitu dong Mas, kan semua butuh persiapan. Sekolah anak-anak gimana? Kan gak mudah urus surat pindah mereka. Paling enggak aku nyusul bulan depan deh sama anak-anak." Balas Mama, akhirnya luluh dan batal ngamuk berkelanjutan. Bagaimana hidup Bapak kalau gak ada Mama? Bapak masak air aja ditinggal tidur sampai tekonya meleduk.

"Saya sudah memikirkan kalau sebaiknya anak-anak kembali ke Bogor. Tinggal sementara dengan Oma Opa sampai tahun depan. Saya sudah minta kantor pusat untuk menaruh Saya di posisi peneliti lab saja. Mereka setuju, jadi Bali adalah tempat terakhir kita pindah-pindah, selanjutnya saya akan kembali kerja di Kebun Raya Bogor, gimana?"

Setelah mendengar kabar gembira itu yah tentu saja Mama senangnya bukan main. Beliau bisa kembali mengurus restorannya di Bogor dan tentu saja hidup tenang, arisan bersama tetangga-tetangga yang tidak asing lagi dari kehidupannya.

Aku dan adikku, Almaira, tentu saja nggak terlalu senang dengan kabar ini. Aku yang pada saat itu sudah kelas dua SMP dan Almaira kelas enam SD benar-benar gemar bepergian keliling daerah. Pindah ke Bogor dan tinggal bersama Oma, Opa artinya kami harus menunggu bertahun-tahun lamanya untuk kembali menghirup udara kebebasan. Don't get me wrong, i love my grandparents so much, they are my life, but they can be very strict with ground rules. Ditambah lagi......hampir 70% keluarga Anwar itu hidup sekomplek.

Ya, gue udah nyebutin pekara tetangga-tetangga yang gak asing, kan? Tetangga-tetangga itu adalah Oma, Opa, Om, Tante dan Sepupu-sepupu gue. I love my big family, i really do. Mereka adalah orang-orang terbaik yang ada di saat susah, senang kami. But living around your family your whole life????

Kejadian pindah ke Bogor itu sudah berlalu 13 tahun yang lalu, and here i am tinggal di rumah mungil bersama Mama, Bapak, Almaira dan adik terkecil ku, Latte. Ya, setelah pulang dari Bali, bukannya mendapat oleh-oleh pai susu, Mama dan Bapak malah membawa kejutan berupa perut Mama yang sudah sebundar dua buah bola voli dan percayalah isinya bayi, bukan timbunan pai susu. Gue dan Alma sempat bingung harus bagaimana terhadap kabar mencengangkan tersebut. Yaah tapi nanti gue ceritain deh reaksi kami sebenarnya.

Sudah tiga tahun juga setelah gue menyelesaikan kuliah di IPB jurusan Agronomi dan Hortikultura. Saat ini sih gue lagi harap-harap cemas menunggu pengumuman beasiswa untuk kuliah S2 agrikultur di Belanda. Sembari nunggu beasiswa, gue sibuk menjaga sawah gue di game Harvest Moon.

Nggak deeeeeeeeh, bisa disambit gue sama Opa kalau lulus kuliah jadi pengangguran banyak acara. Tenaaang, gue lagi bekerja sebegai asisten agronom kok, jadi aman deh bagi kamu-kamu yang mau jadi pacar akooohh, karena aku sudah berpenghasilan serta siap menikahimuuuu #dialogdenganjiwa #jomblogariskeras.

Untuk saat ini, biarlah gue memberikan introduksi terlebih dahulu. Selanjutnya mohon kalian membaca segala curhat, keluh kesah kehidupan sehari-hari ku yang dikelilingi oleh para saudara sekomplek. Serta keanehan mereka. Tapi tolong jangan bilang-bilang yah kalau misalnya kalian kenal seseorang dengan nama belakang Anwar yang tinggal di tanah Sereal, Bogor. Ini bisa jadi buka-bukaan aib terbesar, dan ku tak ingin ketahuan.

Ohya, kalian mau tahu apa hubungan gue dengan Allysa? Well, let's just leave it to your imaginations guys!

Raiza cabut dulu, tunggu segudang cerita ajaib gue di post-an selanjutnya yah.

Caooooo!

Post a Comment